Selasa, 23 Februari 2016

[MOVIE REVIEW] Stanford Prison Experiment (2015) : “Because I know what you can become. –Daniel Culp”
12.54.00

[MOVIE REVIEW] Stanford Prison Experiment (2015) : “Because I know what you can become. –Daniel Culp”


Satu lagi film yang dapat menggugah psikologi para penontonnya. Stanford Prison Experiment merupakan film indie yang pertama kali tayang di Sundace Film Festival 2015 lalu dan memenangkan Waldo Salt Screenwriting Award dan The Alfred Sloan Feature Film di festival tersebut.

Untuk menonton film ini, saya sengaja tidak membaca review ataupun sinopsis dari film ini. Saya ingin dikejutkan oleh ceritanya, dan juga oleh akting para aktor muda yang sedang naik daun seperti Ezra Miller (We Need To Talk About Kevin), Ki Hong Lee (The Maze Runner), Michael Angarano (Sky High), Moises Arias (Ender’s Game), Jack Kilmer (Palo Alto), dan masih banyak lagi. Saya juga tidak pernah tahu menahu apa itu Stanford Prison Experiment, yang ternyata merupakan kisah nyata dari eksperimen yang pernah dilakukan seorang profesor di Stanford University pada tahun 1971.


Film yang disutradarai Kyle Patrick Alvarez ini dibuka dengan screening dibuatnya iklan koran yang mengatakan: dibutuhkannya volunteer untuk sebuah percobaan dan setiap orang akan dibayar $15 per hari untuk menjadi tahanan atau menjadi sipir. Beberapa mahasiswa pun datang untuk interview dan tes kesehatan, mostly early 20, dinyatakan sehat secara fisik dan mental juga tidak pernah memiliki catatan kriminal. Namun para partisipan ini tidak diberitahu apakah mereka terpilih menjadi tahanan atau sipir. Bahkan yang terpilih menjadi tahanan ditangkap seperti the real criminal, tiba-tiba didatangi the real police dan dibawa ke Stanford County Prison yang sengaja dibuat di basement Fakultas Psikologi Stanford University.

Diperlihatkan yang menjadi tahanan semuanya diseragamkan, dan yang mengejutkan, para partisipan yang terpilih menjadi tahanan menggunakan dress tanpa memakai pakaian dalam, dan nama mereka diganti dengan angka. Disebutkan oleh sang profesor, Dr. Zimbardo (Billy Crudup), bahwa para tahanan di feminiskan. Dan para partisipan yang terpilih menjadi sipir diberi seragam lengkap dengan kacamata hitam dan juga nightstick. Penelitian yang dijadwalkan selama 14 hari dianggap para partisipan akan sangat membosankan. Namun di luar dugaan, setiap harinya bahkan setiap jam nya merupakan mimpi buruk bagi para ‘tahanan’. Tanpa mengetahui waktu, ditambah shift bergantian dari para sipir membuat para tahanan tidak mengetahui sudah berapa lama mereka di dalam penjara tersebut.


This movie really blow my mind, karena terlihat lama-kelamaan para mahasiswa ini masuk dalam karakter buatan yang dilekatkan kepada mereka, terutama para sipir. Para sipir terlihat semakin lama semakin agresif dan abusive secara mental maupun fisik. Salah satu sipir yang menamai dirinya John Wayne (Michael Angarano) dengan aksen Southern nya terlihat sangat mendalami karakter sebagai sipir dan dia terlihat yang paling abusive dari sipir-sipir lain. Para tahanan pun terlihat semakin tertekan dan bahkan tanpa sadar menganggap mereka sendiri memang sebagai tahanan. Diperlihatkan bagaimana beberapa tahanan menjadi berontak dan bahkan berencana kabur karena menurutnya percobaan tersebut tidak seperti percobaan seharusnya namun sudah seperti penjara betulan. Ezra Miller  sebagai tahanan 8612 merupakan tahanan yang paling berontak dan akhirnya berhasil kabur dari penjara tersebut.

Penelitian yang dijadwalkan berlangsung dua minggu tersebut akhirnya hanya berlangsung sekitar 4 hari karena terlihat bahwa para partisipan semakin tidak terkontrol dan juga adanya protes dari calon istri sang profesor yang melihat bahwa penelitian tersebut dapan membahayakan mental para partisipan.



Dalam film ini Alvarez berhasil memanfaatkan space yang terbatas untuk menangkap shot yang terlihat sangat rapi. Penggunaan close up para tahanan dan para sipir terasa memperlihatkan kengerian film ini secara psikologis. Efek klaustrofobia sangat kental dirasakan dalam ruangan sempit tersebut, tanpa diperlihatkan adanya jam untuk menunjukkan waktu, dengan 3 ruangan tahanan yang sempit, Alvarez seolah mengajak kita untuk juga merasakan apa yang akan terjadi, dan saya sangat terkejut ketika hanya ada pemberitahuan Day 1, Day 2 untuk memberitau penonton waktu penelitian tersebut. “Lha, itu tadi baru hari pertama?” merupakan komentar yang lumrah ketika nonton film ini. Karena terjadi kepada saya dan teman-teman saya yang juga nonton film ini. Satu hari berasa setahun mungkin berlaku di film ini.

Film ini menurut saya cukup berhasil memberikan kengerian tersendiri terhadap penelitian yang benar-benar diadakan oleh Dr. Zimbardo. Dengan menonton film ini kita diperlihatkan, bagaimana keadaan atau situasi dan pelabelan tertentu dapat merubah seseorang menjadi sangat, sangat jahat tanpa mereka sadari. Film ini bagus sangat bagus, kekurangannya hanya di bagian ending karena saya mengharapkan sesuatu yang thrilling, namun berakhir ‘gitu deh’. Namun, meskipun endingnya tak se- BANG! yang diharapkan, film ini bakal saya rekomendasikan kepada semua orang karena this is a good one! 

0 komentar:

Poskan Komentar