Jumat, 20 Mei 2016

[MOVIE REVIEW] Brooklyn (2015): Home Is Home
17.33.00

[MOVIE REVIEW] Brooklyn (2015): Home Is Home


Menjadi salah satu nominasi film terbaik Oscar 2016 kemarin, Brooklyn memang tidak sekuat pesaing-pesaingnya. Bukan berarti film arahan John Crowley ini jelek, tentu saja tidak, namun film-film seperti The Revenant dengan cerita survival nya, Spotlight dengan kejurnalistikannya, Room, Bridge of Spies, The Big Short, The Martian, juga Mad Max: Fury Road terlihat lebih lebih kuat untuk menyabet patung Oscar, dan kita pun tahu gelar film terbaik akhirnya diberikan kepada Spotlight yang disajikan dengan sangat brilian.

Brooklyn berkisah tentang seorang Eilis Lacey (Saoirse Ronan) seorang gadis dari kota kecil di Irlandia yang mengadu nasib di New York, Amerika Serikat. Tinggal di rumah kost yang hangat, bekerja di department store yang bagus, juga didaftarkan untuk melanjutkan kuliah bukan berarti membuat Eilis tidak dirundung masalah seorang anak rantau. Dirinya terkena homesick yang lumayan parah, hingga suatu hari dirinya bertemu dengan seorang pria keturunan Italia yang menawan dan sopan bernama Anthony Fiorello (Emory Cohen) yang membawa efek lumayan dahsyat kepada Eilis. Namun, Eilis mengalami gejolak ketika ada sesuatu yang mengharuskan dirinya pulang ke Irlandia. Di sini lah Eilis harus memilih antara rumah baru atau rumah lama dimana dirinya juga akan bertemu pria kaya dan menawan lain bernama Jim Farrell (Domnhall Gleeson).


Premis film ini memang terlihat sangat sederhana, namun ternyata ada sesuatu di dalam film ini yang tidak bisa diabaikan. Film ini tidak memuat konflik yang jungkir balik, terkesan sangat tenang dan mengalir apa adanya namun disitulah keindahannya. Brooklyn merupakan kisah cinta yang baru saja tumbuh dan akan mekar, namun harus dipisahkan jarak antara Irlandia-Amerika dan mengenal konflik yang dinamakan rindu.

Brooklyn layaknya es krim vanilla-stroberi. Manis dan juga ada rasa masam, namun tidak berlebihan. Kadarnya masih bisa ditolerir lidah. Rasa masam dan manis yang nyaman. Brooklyn sanggup membuat saya mesem-mesem karena manisnya, dan sanggup juga membuat saya menetesekan air mata karena masamnya. Masalah yang dihadapi Eilis di Brooklyn ada pada kadar yang pas. John Crowley sanggup untuk menyajikan Brooklyn menjadi drama epic yang membekas di hati saya. Beberapa scene juga memuat jokes yang pas tanpa terkesan canggung.


Menyaksikan Saoirse Ronan bermain di film ini sungguh membuah saya bangga. Saya termasuk yang mengikuti film-film nya. Ronan selalu masuk dalam karakter yang dia perankan. Tidak terkecuali ketika berperan sebagai Eilis. Saya tidak pernah membayangkan jika film ini akan dimainkan oleh aktris lain karena Ronan sangat sangat pas untuk menjadi Eilis. She always be my favorite girl. Karakter utama pria pun dimainkan sangat apik oleh Emory Cohen. Menjadi pria keturunan Italia yang decent dan pekerja keras. I want one like him, kalau ada. Haha… Pun Domnhall Gleeson dan juga sederet aktor lain bermain sangat baik tanpa ada ketimpangan yang terlihat jelas. Ikatan emosi setiap pemain pun terjalin dengan sempurna.


Acungan jempol patut saya berikan kepada departemen teknis. Sinematografi yang apik dapat memanjakan mata anda. Kentalnya aksen irish dan Italia, juga kostum-kostum vintage khas 50’an bersliweran. Anda akan dimanjakan warna-warna pastel yang lembut ketika menonton film ini dan membuat film ini sangat otentik.

Secara keseluruhan, Eilis diharuskan memilih ‘rumahnya’. Memilih antara siapa yang patuh dicintainya dan siapa yang patut mendapatkan cintanya. Brooklyn merupakan sebuah kisah cinta sederhana yang terasa sangat istimewa.



0 komentar:

Poskan Komentar